Cara kita memakainya yang menentukan.
Selama beberapa minggu terakhir, gw banyak cerita soal gimana AI gw pakai di pekerjaan sehari-hari.
Bukan buat menggantikan cara berpikir.
Justru buat memperkuatnya.
Kalau dipikir lagi, semuanya sebenarnya mengarah ke empat hal.
1. Think better
↳ Pakai AI buat memperjelas masalah, menantang asumsi, membandingkan opsi, dan menemukan blind spot.
2. Communicate better
↳ Pakai AI buat mengubah ide yang masih berantakan menjadi pesan yang lebih jelas dan lebih mudah dipahami.
3. Learn faster
↳ Pakai AI buat memahami hal baru lebih cepat, supaya energi kita bisa dipakai untuk pendalaman, bukan sekadar memulai.
4. Deliver better
↳ Pakai AI buat memperkuat proposal, analisis, presentasi, prototype, sampai rekomendasi sebelum diberikan ke orang lain.
Setelah tujuh post ini, gw makin yakin:
yang paling penting bukan AI-nya.
Tapi judgment orang yang memakainya.
Karena AI bisa kasih banyak jawaban.
Tapi kita yang menentukan:
→ masalah mana yang layak diselesaikan.
→ ide mana yang layak dibangun.
→ rekomendasi mana yang layak diambil.
→ dan konsekuensi dari setiap keputusan.
Semakin senior peran kita,
semakin sedikit orang menilai kita dari seberapa cepat kita bekerja.
Yang dinilai justru:
↳ cara kita berpikir.
↳ cara kita mengambil keputusan.
↳ cara kita berkomunikasi.
↳ dan seberapa besar dampak yang kita hasilkan.
Buat gw, di situlah AI paling bernilai.
Bukan menggantikan judgment.
Tapi memperkuatnya.
Terima kasih buat semua yang udah ngikutin seri ini.
Semoga ada satu atau dua ide yang bisa kalian bawa ke pekerjaan sehari-hari.
Dari empat ini, mana yang paling sering kalian pakai di kerjaan sehari-hari?
Think better, communicate better, learn faster, atau deliver better?
