Tapi scope yang nggak pernah ditentuin dari awal.
Vibe coding itu kerasa cepat banget di awal.
→ Fitur pertama jadi dalam hitungan menit.
→ Fitur kelima mulai sering konflik sama yang lama.
→ Fitur kesepuluh… nambah apa pun rasanya berat.
Bukan karena AI-nya makin bodoh.
Tapi karena kita langsung gas tanpa pernah mutusin: mau bangun apa, strukturnya gimana, dan apa yang sengaja nggak dibangun.
Akhirnya:
Jadi mesti refactor.
Jadi harus fix bug yang terus balik lagi.
Gw ngalamin sendiri di app panahan yang gw bikin buat anak-anak gw.
Versi pertamanya full vibing.
Cepat jadi.
Tapi design-nya berantakan.
Makin banyak fitur, makin susah di-scale.
Ujungnya: rewrite dari nol.
Versi kedua gw bangun dengan cara beda: spec-driven development, dibantu agent-skills dari Addy Osmani.
Minggu ini keuji di fitur paling kompleks sejauh ini: offline mode plus PWA. Service worker, sync, idempotency.
Sebelum satu baris kode ditulis, spec-nya maksa gw mutusin dulu:
↳ Apa yang dibangun — dan apa yang masuk non-goals.
↳ Conflict rule kalau data offline ketemu data server: last-write-wins.
↳ Boundaries buat AI-nya: Always, Ask first, Never.
Spec-nya approved dalam hitungan menit.
Kalau disusun manual kayak dulu, bisa seharian lebih.
Dan build-nya? Smooth. Hampir nggak ada bolak-balik.
Bukan karena AI-nya nulis kode lebih bagus.
Tapi karena semua keputusan udah diambil sebelum ngoding.
AI bisa bantu nyusun dan ngerjain spec-nya.
Tapi yang mutusin scope, trade-off, dan batasannya — tetap kita.
Ada yang pakai agent-skills juga di sini? Atau tim superpowers?
